Kamis 05 April 2007

Dongeng

Si Buruk Rupa yang Baik Hati

Nun jauh di sebuah desa yang bernama Gn.Tabur hiduplah seorang pemuda yang bernama Si Sarrik tapi nasib kurang baik karena dia yatim piatu sejak kecil dan memiliki wajah buruk rupa tetapi berbeda dengan hatinya yang suka menolong dan selalu ramah terhadap semua orang. karena melihat kondisinya itu segala kebaikan-kebaikan yang di lakukan Si Sarrik tidak dianggap hanya sebagian masyarakat yang peduli, sehingga masyarakat bersepakat untuk mengusirnya jauh kehutan.

Akhirnya dengan berat hati Si Sarrik pergi juga kehutan yang kondisi hutannya sangat gersang karena banyak yang sudah di tebang masyarakat untuk bangunan rumah. untuk menghilangkan kebosanannya setiap hari si sarrik mengambil anakan pohon dari alam untuk di tanam di lokasi yang gersang. Dia juga membuat kebun kecil untuk mendapatkan kebutuhan hidupnya. untuk mengilangkan rasa sepinya biasanya Si Sarrik bermain dengan binatang Hutan seperti burung, kancil.

Read more...
Posted by Kir@k at 23:35:10 | Permanent Link | Comments (3) |

Rabu 14 Maret 2007

Keragaman Burung di Kawasan Suaka Marga Satwa Pulau Semama

Ekspedisi Bahari

“Studi Keragaman Jenis Burung di Kawasan Suaka Margasatwa Pulau Semama”


Latar Belakang

Indonesia Merupakan negara kepulauan, sebagai negara kepulauan seharusnya bangsa Indonesia lebih peduli lagi terhadap kondisi pulau-pulau. Pada saat ini bangsa Indonesia lagi dikerumuni oleh musibah, kita peduli deh. Tapi jangan sampai lengah atau cuek terhadap daerah-derah terluar, klu sudah diambil baru nyesel. Masih banyak pulau-pulau yang miskin akan informasi,belum lagi database mungkin only my dreams. Berawal dari pemikiran yang amat sederhana ini kami mencoba menambahkan beberapa database tentang pulau semama, moga aja apa yang kami lakukan ada manfaatnya bagi kami sendiri maupun masyarakat.

Pelaksanaan

Kegiatan Ekspedisi Bahari dilaksanakan mulai tanggal 6-31 Agustus 2006 dengan lokasi Kepulaua Derawan (Pulau Sangalaki, Pulau Semama, Pulau Maratua, Pulau Derawan), kelokasi pada tanggal 14-16 Agustus 2006. Kita menggunakan metode titik karena kondisi kawasan yang cukup luas dan sangat awan bagi kita.

Hasil kegiatan

Kawasan Pulau semama ditunjuk sebagai kawasan Suaka Marga Satwa berdasarkan dengan SK. Menteri Pertanian No. 604/Kpts/UM/8/1982 Tanggal 19 Agustus 1982 dengan luas : 220 Ha.Luas Pulau 15,9 hektar, terletak di Kepulauan Derawan, Kabupaten Berau, Kalimantan Timur. Tujuan Penetapan : Untuk perlindungan Habitat Penyu dan Burung- burung laut

Satuan morfologi Pulau Semama adalah dataran pantai dengan topografi datar. Pantai pasir memiliki kemiringan lereng berkisar 5°-10° dan lebar pantai 8,5-10 meter. Kawasan yang tidak berpenghuni ini sering menjadi tempat persinggahan para nelayan, hanya terdapat satu pondok penjaga kebun kelapa.

Material penyusun pantai adalah fragmen karang dengan pasir sangat kasar sebagai ukuran butir yang dominan. Pantai pasir di pulau ini berasosiasi dengan hutan mangrove yang tidak tebal.

Tipe ekosistem : Hutan mangrove Potensi kawasan

Flora : Kelapa (Cocos nucifera), bakau (Rhizopora sp.), pandan (Pandanus sp), beringin laut (Ficus anulata), karamunting (Melastoma malabathrium), bias (Bruguiera sp.), pakis laut (Reanthus sp), blimang (Octomeles sumatrana), bayur (Pterospermum javanicum), resak (Vatica rassak), paku-pakuan (Drynaria quercifolia), sirihan (piper sp.), alang-alang (Imperata cylindrica)

Fauna : Penyu hijau (Chelonia mydas), biawak (Varanus salvator), burung gosong (Falconidius freicynet Reinward), punai (Treron olax), raja udang (Halcyon capensis), Pergam (Ducula aenea), dara laut jambul besar (Sterna bergii), dara laut jambul kecil (Sterna bengelansis), kuntul karang (Egretta sacra), lumba-lumba (Ziphiicae/Dolphinidae), Elang (Accipter sp.)

Jenis burung yang terdapat

Indek Keragaman jenis burung di Semama

No

suku

Nama Jenis

Nama Ilmiah

N

Pi

In.Pi

Pi.In.Pi

D

suku

1

1

Accipitridae

Elang Bondol

Haliastur indus

1

0.01

-4.75

0.04

0.86

6.67

2

2

Alcedinidae

Cekakak Suci

Todirhamphus sanctus

1

0.01

-4.75

0.04

0.86

13.33

3


Alcedinidae

Cekakak Sungai

Todithamphus chloris

15

0.13

-2.05

0.26

12.93


4

3

Ardeidae

Kuntul Karang

Egretta sacra

2

0.02

-4.06

0.07

1.72

6.67

5

4

Columbidae

Pergam laut

Ducula bicolor

3

0.03

-3.65

0.09

2.59

13.33

6


Columbidae

Pergam Kelabu

Ducula pickeringi

2

0.02

-4.06

0.07

1.72


7

5

Fregatidae

Cikalang Besar

Fregata minor

11

0.09

-2.36

0.22

9.48

13.33

8


Fregatidae

Cikalang Cristhmas

Fregata andrewsi

59

0.51

-0.68

0.34

50.86


9

6

Hirundinidae

Layang -layang Pasir

Riparia riparia

3

0.03

-3.65

0.09

2.59

6.67

10

7

Motacillidae

Kicuit dwi warna

Motacilla alba

1

0.01

-4.75

0.04

0.86

6.67

11

8

Nectariniidae

Madu Polos

Anthrepthes simplex

1

0.01

-4.75

0.04

0.86

20.00

12


Nectariniidae

Madu Bakau

Nectarinia calcostetha

8

0.07

-2.67

0.18

6.90


13


Nectariniidae

Madu Kelapa

Anthrepthes malacensis

5

0.04

-3.14

0.14

4.31


14

9

Ploceidae

Gereja Erasia

Passer montanus

3

0.03

-3.65

0.09

2.59

6.67

15

10

Scolopacidae

Trinil Pantai

Tringa hypoleucos

1

0.01

-4.75

0.04

0.86

6.67

Total


116

1.00

0.00

1.78

100.00

100.00

Tingkat Keanaekaragaman jenis burung di Kawasan Pulau Semama sebesar 1.78, kondisi habitat memberikan pengaruh yang cukup besar terhadap komposisi jenis burung. Dominansi terbesar dlam kawasn tersebut adalah jenis Fregata andrewsi sekitar 50.86 %. Dominansi Suku yang terbesar adalah Nectariniidae sebesar 20 %.

Aksesibiltas :

Dengan mengunakan Bis/Mobil Terminal Balikpapan – Keterminal Samarinda Sekitar 2.5 jam, lanjut dari Terminal Lempake Samarinda ke Terminal Berau dengan mengunakan Bis/Mobil sekitar 14-16 jam, dilanjutkan dengan menggunakan speedboat menuju Pulau Semama sekitar 3-4 jam (harus bawa surat Izin Masuk Lokasi dari BKSDA Kab.Berau)

Mohon Maaf inforamsi ini tidak lengka karena dalam proses penyelesaian dengan harapan ini dapat memberikan inforamsi lebih kepada masyarakat.

Kami juga membuka diri untuk diskusi dan berbagi informasi (@z)

TIM

EKSPEDISI BAHARI

Posted by Kir@k at 18:49:01 | Permanent Link | Comments (1) |

Selayang Pandang

Basusuran

Basusuran merupakan salah satu kebudayaan dari masyarakat suku Benua. wilayah suku benua meliputi Kecamatan Gunung Tabur, Kec. Sambaliung, Kec. Tanjung Redeb, sebagian Kec. Kelay. Basusuran adalah sebuah kegiatan yang berupa cerita tentang kejadian-kejadian masa lalu, ketika anak-anak mau tidur seorang ibu akan Basusuran menceritaka kejadian masa lalu. Makna yang dapat diambildari kegiatan ini berupa, bentuk kasih sayang dari seorang ibu terhadap anaknya karena dengan basusuran seorang anak akan tenang karena ada ibu di sampingnya. Basusuran juga berisi perjuangan atau patriotisme, sehingga muncul jiwa patriotisme ataupun keberanian dari seorang anak. Makna yang terkandung didalamnya bisa berupa cerita religius yang dapat membantu orangtua alam mendidik anak tentang agama. Dan masih banyak lagi makna yang terkandung didalam Basusuran. Sekarang kegiatan ini pun masih berlansung di masyarakat Kabupaten Berau. Walaupun konsep ceritanya atau alurnya sudah mulai moderen dan terkontaminasi oleh cerita-cerita di televisi.

Konsep sebuah Konservasi dapat dilakukan mulai sejak dini, melihat tingkat kepudulian masyarakat semakin kurang kita punya kewajiban untuk berjuang. Basusuran juga bisa berisi cerita-cerita yang berhubungan dengan kegiatan konservasi, sehingga proses pembelajaran bisa dilakukan lebih dini.

Kita bisa berjuang dengan kebudayaan.

Thanks

Adjie


Posted by Kir@k at 17:17:27 | Permanent Link | Comments (3) |

KAMPUS KU

FAHUTAN ga gatek lagi

Dalam beberapa bulan ini FAHUTANsudah maju beberapa langkah kedepan, mulai dari struktur didalamnya sudah mulai ada wajah-wajah baru (Dosen muda) walaupun mereka-mereka ini orang yang tidak asing lagi bagi FAHUTAN. Walaupun produk lokal tapi kualitas luar negeri coy, coba aja masuk kuliahnya pasti beda. Bukan berarti dosen yang lama kualitasnya turun. Klu kita istilahkan semakin tua kelapa semakin banyak pula santannya. Bravo dosenku…..!

Mungkin ini awal yang baik, karena di lingkungan FAHUTAN sudah bisa joint internet gratis, tinggal dari kitanya aja pintar-pintar cari sinyal dan klu bisa modal laptop deh. Banyak keuntungan dari adanya internet gratis (sinyal gratis) kita bisa nyari informasi hanya dengan duduk dan senam jari dikit kemungkinan besar informasi yang kita dapatkan lebih banyak dari apa yang kita inginkan….tertarik gak sih luh.

Tapi pesan-pesan orang diatas kita klu bisa bagi-bagi jatah biar semua kebagian jatah ngenet gitu......kali

Tugas-tugas kuliah juga sudah main email dan blog-blog kan, pasti dijamin klu lulus dari FAHUTANminimal bisa main internet. (@z)

Posted by Kir@k at 16:05:04 | Permanent Link | Comments (1) |

Selasa 13 Maret 2007

Serba-serbi

lestari....

Dalam beberapa hari ini anak anak mapflofa lagi gencar-gencarnya hunting nephentes, ada beberapa
keinginan dari anggota diantaranya mau koleksi di mabes, ada yang usaha, ada yang pingin penelitian.

kejadiaanya
sekarang teman-teman sedang membawa beberapa rumpun nephentes yang di ambil lansung dari kawasan Tj.Pangempang

Permasalahan :
Sebagian besar anak-anak MAPFLOFA tidak mengetahui bahwa nepentes merupakan salah satu jenis Flora yang dilindungi, maka dari itu muncul kebingungan dari temen2 ini mau diapakan

upaya solusi
Pengoleksian kantong semar (kasem) dimulai pada bulan agustus 2005, sampai sekarang di taman tumbuh kasem. keinginan awal :

1. Untuk Penelitian Skripsi/ MAPFLOFA
- KEHATI Kasem pada daerah Samboja,(inventarisasi)
- KEHATI Kasem pada tipe hutan kerangas di kawsan Tj. Pangempang
- Studi morfologi Kasem jenis Hutan Kerangas dan Hutan Pantai (samboja) (karakteristik Kasem)

2. Untuk Koleksi di depan Mabes
- sebagai arboretum tanaman yang di lindungi
- mempermudah temen2 untuk mengenal jenis Kasem

3. Budidaya
- Klu bisa di budidayakan

4. Komersil
- Klu udah di budidayakan (F3) rencananya akan di kembangkan kearah usaha dan dana


Niat hati untuk kebaikan MAPFLOFA
saran-saran dari temen2

ini baru sebuah keinginan dari teman-teman.

 

lestari

Posted by Kir@k at 03:36:15 | Permanent Link | Comments (5) |

Flora

Nepenthes

Selayang Pandang tentang Kantong Semar

Bagi kalangan pencinta tanaman, jenis ini merupakan pendatang baru yang sedang naik daun. Kantong Semar sebuah nama yang tidak asing lagi bagi kita akan tetapi masih banyak orang yang belum melihat secara lansung si Tanaman Karnivora. Nepenthes, pertama kali dikenalkan oleh J.P Breyne. Nama Nephentes diambil dari sebuah nama gelas anggur. Di Indonesia, disebut sebagai kantong semar, dengan sebutan beragam di berbagai daerah, periuk monyet (Riau), kantong beruk (Jambi), ketakung (Bangka), sorok raja mantri (Jawa Barat). ketupat napu (Dayak Katingan), telep ujung (Dayak Bakumpai), dan selo begongong (Dayak Tunjung).

Tumbuhan yang termasuk dalam golongan tumbuhan liana (merambat) ditanah ataupun di ranting-ranting pohon,berumah dua, serta bunga jantan dan betina terpisah pada individu yang berbeda. Hidup di tanah (terrestrial), ada juga yang menempel pada batang atau ranting pohon lain (epifit). Kantong Nepenthes merupakan perubahan bentuk dari ujung daun yang memiliki fungsi menjadi perangkap serangga atau binatang kecil lainnya. Karenanya tumbuhan ini digolongkan sebagai tanaman karnivora (carnivorous plant), selain Venus Flytrap (Dionaea muscipula), sundews (Droseraceae) dan beberapa jenis lainnya. Tanaman karnivora umumnya hidup pada tanah miskin hara, khususnya nitrogen, seperti kawasan kerangas.

Nepenthes termasuk dalam famili Nepenthaceae dan kelas Magnoliopsida pada umumnya tumbuh pada hutan hujan tropik dataran rendah, hutan pegunungan, hutan gambut, hutan kerangas, gunung kapur, padang savanna dan tepi danau. Nepenthes tersebar mulai dari Australia bagian utara, Asia Tenggara, hingga Cina bagian selatan. Terdapat sekitar 82 jenis nepenthes di dunia dan 64 jenisnya berada di Indonesia Borneo (Kalimantan, Serawak, Sabah, dan Brunei) merupakan pusat penyebaran nepenthes di dunia. Sesuai dengan ketinggian tempat hidupnya, Nepenthes dibagi menjadi tiga golongan, yaitu yang hidup pada dataran rendah (0-500 mdpl (meter dari permukaan laut)), dataran menengah (500-1.000 mdpl) dan dataran tinggi (di atas 1.000 mdpl). Untuk di dataran rendah meliputi jenis N. gracilis, N. mirabilis, N. reinwardtiana, dan N. raflesiana, N. adnata, N. clipeata, N. mapuluensis merupakan jenis yang dapat hidup di dataran menengah. Sedangkan yang dapat tumbuh baik di dataran tinggi meliputi N. diatas, N. densiflora, N. dubia, N. ephippiata dan N. eymae. Perbanyakan tanaman Nepenthes dilakukan melalui stek batang, biji dan memisahkan anakan. Umumnya Nepenthes yang hidup terrestrial di dataran rendah tumbuh di tempat-tempat yang berair atau dekat sumber air pada substrat yang bersifat asam. Nepenthes juga membutuhkan cahaya matahari intensif dengan panjang siang hari antara 10-12 jam setiap hari sepanjang tahun, dengan suhu udara antara 23-31°C dan kelembaban udara antara 50-70%.

Manfaat Kantong Semar

Selain semangat tanaman hias Kantong Semar juga memiliki fungsi yang tidak kalah penting, diantaranya :

1.Sebagai Indikator Iklim

Jika pada suatu kawasan atau areal di tumbuhi oleh Nepenthes gymnamphora, berarti kawsan tersebut tingkat curah hujannya cukup tinggi, kelembapan diatas 75 %, tanahnya pun miskin unsur hara

2.Tumbuhan Obat

Cairan dari kantong yang masih tertutup, digunakan sebagai obat batuk.

3.Sumber air minum bagi Petualang

Bagi para pendaki gunung yang kehausan kantong semar jenis N. gymnamphora merupakan sumber air yang layak minum karena pH-nya netral (6-7), tetapi kantong yang masih tertutup, karena kantong yang terbuka sudah terkontaminasi dengan jasad serangga yang masuk kedalam, pH-nya 3 dan rasanya masam.

4.Sebagai Pengganti tali

Batang dari Kantong Semar ini bisa di gunakan sebagai pengganti tali untuk pengikat barang.

Ancaman Si Kantong Semar

Semua jenis Nepenthes adalah dilindungi, akan tetapi keberadaannya sekarang ini sudah semakin sedikit. Habitatnya yang semakin sempit baik itu di karenakan aktifitas manusia secara lansung maupun maupun tidak lansung.

Ancaman terhadap si Kantong Semar :

1.Pembukaan Kawasan Tambang

2.Pembukaan Kawasan Untuk Tambak

3. Eksploitasi jenis untuk di komersilkan

Pesona nephentes kini kian melejit. Banyak penggemar tanaman mulai mengoleksi beragam jenisnya. Keunikan sosok dan sifat menjadi daya tarik utama. Misalnya, kemampuan tanaman memangsa serangga. Meski umum ditemukan di dataran tinggi, tetapi beberapa mampu beradaptasi di dataran rendah. Sayang, merawat agar kantongnya banyak dan memperbanyak nephentes tidaklahlah mudah. Butuh penanganan dan perawatan yang tepat agar tampil prima. Bila tak piawai merawat, biarkan keindahan kantong semar itu berada di habitatnya agar si pemangsa tetap jadi penguasa pegunungan.

Posted by Kir@k at 03:28:17 | Permanent Link | Comments (1) |

Selasa 06 Maret 2007

Flora

Jati (Tectona grandis)

a. Daerah Penyebaran dan Tempat Tumbuh

Jati merupakan tanaman asli di sebagian jazirah India, Myanmar, Thailand, Indo Cina, Jawa, serta beberapa pulau kecil lainnya di Indonesia, seperti Muna (Sulawesi Tenggara). Di luar daerah tersebut jati merupakan tanaman asing atau eksotik.

Jika dilihat dari penyebarannya, tanaman jati tersebar di garis lintang 90 LS sampai 250 LU, mulai Benua Asia, Afrika, Amerika dan Australia bahkan sampai Selandia Baru. Di Asia tanaman jati  secara alami tersebar di negara-negara Asia Tenggara, Taiwan, India dan Srilanka. Di Australia dan Pasifik, ditemukan di Queensland, Kepulauan Fiji, Kepulauan Ryuku, Kepulauan Solomon serta Selandia Baru. Di Afrika , tanaman jati terdapat di Sudan, Kennya , Tanzania, Tanganyika, Ghana, Uganda, Senegal, Nigeria dan beberapa negara  di Afrika Barat. Sementara itu, di Amerika tanaman jati  terdapat di Jamaika, Panama, Argentina, Puerto Rico, Kepulauan Tobago dan Suriname. Jati tersebut tumbuh sebagai tanaman spesifik dan mempunyai karakteristik yang berbeda-beda (Tini dan Amri, 2002).

Jati adalah satu-satunya jenis yang diusahakan kehutanan secara besar-besaran di pulau jawa pada Zaman Kolonial Belanda. Luas lahan Jati di Indonesia adalah 923.918 Ha (hampir 78,04 % dari total luas hutan tanaman jenis-jenis utama di Indonesia). Tersebar di Jawa Timur 150.325 ha, DI Jawa Barat dan Jawa Tengah selua 768.293 ha dan di luar Jawa seluas 4.300 ha.

Di Jawa jati tumbuh baik di daerah-daerah rendah dan panas serta tersebar secara merata. Umumnya memilih tanah yang mempunyai musim kemarau yang nyata dan tidak mau tumbuh pada tanah yang selalu lembab. Terutama tumbuh di tanah yang berpasir atau berbatu-batu tetapi tidak tergenang air.

Jati cocok di tanam pada daerah tropis, tanaman ini termasuk tanaman pioner yang dapat tumbuh di berbagai jenis tanah, kecuali tanah gambut atau rawa. Tanah yang idela untuk penanaman jati adalah tanah jenis alluvial dengan pH 5- 8. Topografi tanah dengan kemiringan kurang dari 20%. Jati dapat tumbuh dengan baik jika ditanam di daerah dataran rendah hingga dataran tinggi dengan ketinggian 0-700 m dpl., artinya lokasi yang dekat pantai pun dapat dijadikan tempat penanaman jati. Pada umumnya jati tidak tahan dengan kondisi tergenang air, sehingga dalam penanaman jati dibutuhkan sistem drainase yang baik dengan solum yang cukup dalam. Kisaran hujan yang disukai adalah 1200-2500 mm/th dengan 3-5 bulan kering atau curah hujan kurang dari 50 mm/bulan. Temperatur berkisar 19-360C yang merupakan temperatur normal daerah tropis. Sementara itu intensitas cahaya yang dibutuhkan antara 75-100%.

Posted by Kir@k at 00:03:42 | Permanent Link | Comments (0) |

Senin 05 Maret 2007

Fauna

Burung Air

Burung air adalah burung yang hidup dan tinggalnya di daerah perairan seperti daerah pinggir sungai, laut, rawa, hutan bakau, hutan payau etuaria danau, sawah, bendungan dan pantai.

Konvensi Ramsar mendefinisikan burung air sebagai jenis burung yang secara ekologis kehidupannya bergantung kepada keberadaan lahan basah (Sibuea, 1995).

MacKinnon (1993) membagi burung air ke dalam 4 kategori ekologi yaitu:

1.Burung burung laut, bersifat pelagik (hidup di laut bebas) dan bersifat aerial (lebih banyak beraktivitas dengan terbang) yang makan dan hidup di laut. Yang termasuk dalam burung-burung jenis ini adalah Peggunting Laut suku Procellariidae, Petrel Badai suku Hydrobatidae, burung Buntut suku Phaetontidae, burung Gangsa Batu Slidae, burung Dara Laut suku Sternidae, burung Cikalang suku Fregatidae, dan burung Camar Kejar suku Stercorariidae.

2.Burung-burung berenang di air tawar, yaitu burung pelagik yang umum dijumpai berenang di perairan tawar. Burung-burung ini biasanya adalah dari jenis perenang dan lebih mirip bebek kecuali Pecuk Ular dari suku Phalacrocoracidae. Burung yang masuk dalam kategori ini antara lain Titihan suku Podicipedidae, Belibis Itik suku Anatidae, Kaki Sirip suku Heliornithidae dan Pecuk.

3.Burung air berkaki panjang, burung ini berukuran besar, umumnya makan di dalam air tetapi dengan cara berdiri di dasar perairan dangkal ataupun tepi sungai. Meskipun burung ini banyak menghabiskan waktu diperairan mereka merupakan burung penerbang yang kuat dan bukan perenang. Jenis ini antara lain burung Cangak suku Ardeidae, burung Bangau suku Ciconidae, dan burung Ibis suku Thereskiornithidae.

4.Perancah dan pemakan organisme tanah, burung ini hidup di tepi perairan dengan paruh panjang untuk memeriksa ke dalam lumpur dan pasir untuk mendapatkan makanan yang terpendam di dalamnya. Burung-burung jeis ini adalah Kaki Lebar suku Phalacopidae, Trulek suku Charadriidae, Wili Wili suku Burhinidae, Blekek Kembang suku Rostratulidae, dan Terik suku Glareolidae.

Rose dan Scott (1994) dalam Sibuea (1995) juga, menggolongkan famili burung air yang terdapat di Indonesia yaitu : Podicipedidae (Titihan), Phalacrocoracidae (Pecuk), Pelecanidae (Pelikan), Ardedidae (Kuntul, Cangak, Kowak), Anatidae (Bebek, Mentok, Angsa), Gruidae (Burung Jenjang), Ciconiidae (Bangau) Thereskiornithidae (Pelatuk Besi dan Paruh Sendok), Rulidae (Ayam Ayaman, Mandar, Kareo, Terbombok), Heliornithidae (Fin Foot), Jacanidae (Ucing Ucingan), Rostratulidae, Haematopodidae, Charadriidae (Trinil), Scolopacidae (Gajahan, Berkek), Recurvirostridae, Phalaropodidae, Burhinidae, Glareolidae (Terik) dan Laridae (Camar).

Habitat Burung air

Kelompok burung air biasanya sering ditemui dalam jumlah banyak pada daerah perairan dalam hal ini tentu saja dapat dijadikan indikator penting untuk mempelajari kualitas dan produktivitas suatu kawasan perairan atau lahan basah.

Berdasarkan definisi Ramsar berarti burung air menjadikan kawasan perairan atau lahan basah dan sumberdaya yang ada di atasnya seperti tumbuhan sebagai tempat makan, beristirahat, dan berkembang biak.

Adapun beberapa jenis lahan basah yang sering dijadikan sebagai habitat burung air adalah:

1.Manggrove dan Dataran Lumpur di Tepi Pantai

Hutan manggrove sering juga disebut sebagai hutan bakau atau payau hal ini disebabkan adanya jenis tumbuhan bakau yang mendominasi tegakan pada hutan ini. Hutan manggrove ini selalu tergenang air dan berada di daerah pantai sehingga dipengaruhi oleh pasang surut. Pada hutan ini terdapat campuran antara air laut dan air tawar dari sungai.

Menurut Sibuea (1995) indonesia mempunyai kawasan manggrove terbesar di dunia. Irian Jaya memiliki 58 % dari jumlah total, Sumatera 19 % dan Kalimantan 16 %.

Tidak hanya burung, hutan manggrove yang merupakan tempat hidup berbagai jenis satwa lainnya. Terdapat 170 jenis burung yang diketahui hidup pada daerah ini, termasuk beberapa jenis Bangau (Sibuea, 1995), sedangkan satwa lain yang kerap muncul pada kawasan lahan basah ini adalah bebrapa jenis primata seperti Bekantan, Uwa Uwa dan sebagainya.

Hutan yang kaya akan ikan dan udang udangan ini sangat mendukung kehidupan burung-burung air dan beberapa jenis burung hutan umum. Kawasan yang didominasi oleh jenis bakau seperti Sonneratia sp, Rhizophora sp dan Bruguira digunakan oleh berbagai satwa ataupun burung sebagai tempat bersarang selain juga bisa menjadi bahan pakan mereka.

Berbeda dengan kawasan pantai yang di dominasi oleh vegetasi semak belukar yang tidak rapat di atas pasir yang kering dan tidak terpengaruh oleh iklim. Air sangat susah tertahan. Hutan ini dapat terlihat dengan adanya hutan cemara (Casuarina equisetifolia), pohon kelapa, Calophyllum inophyllum, Hibiscus tiliacius, dan Pisenia grandis, demikian juga dengan epiphit dan anggrek, hanya sedikit jenis burung yang agak umum terutama burung air.

Biasanya burung menggunakan lumpur di tepi pantai sebagai tempat mencari makan seperti halnya burung bangau. Sedangkan hutan manggrove menjadi tempat pentingnya untuk bersarang disamping makan (Sibuea, 1995).
Posted by Kir@k at 11:03:57 | Permanent Link | Comments (1) |

Flora

Misteri
Sarang semut menambah khazanah kekayaan tanaman obat. Tanaman obat? Yang disebut sarang semut sebetulnya bagian dari tanaman epifi t bernama ilmiah Myrmecodia sp. Bentuknya mirip umbi, di bawah batang tanaman yang menggelembung. Nah, di dalamnya itulah 3 jenis semut Irydomyrmex menghuni. Jadi, bukan sembarang sarang semut seperti tampak di beberapa ranting pohon seperti pohon mangga.

Anggota marga Psychotrieae terdiri atas 26 spesies tersebar di berbagai wilayah Indonesia, seperti Papua, Siberut, Mentawai, Jawa, dan Kalimantan. Jenis yang banyak ditemukan di Papua adalah Myrmecodia tuberosa. Dalam Tumbuhan Berguna Indonesia K Heyne menyebut Myrmecodia sebagai rumah semut. Semut merasa nyaman tinggal di caudex?bagian yang menggelembung? lantaran tanaman inang memproduksi gula.

Zat itu dimanfaatkan semut sebagai sumber pakan. Sebagai balas jasa, semut melindungi tanaman dari pemangsa herbivora. Sebagai epifit?tumbuhan yang hidup pada tumbuhan lain, tetapi tidak merugikan? rumah semut antara lain menumpang pada melaleuka. Jadi Myrmecodia menggantung di batang-batang pohon tertentu.

Bagian yang menggelembung itu yang kini mulai banyak dimanfaatkan sebagai bahan baku obat. Jenis senyawa aktif yang berperan dalam penyembuhan hingga kini masih misteri. Keberadaannya tengah diteliti Lembaga Ilmu Pengetahuan Indonesia. Dr Muhammad Ahkam Subroto, periset, menduga rumah semut kaya senyawa antioksidan. Sayang, jenisnya belum diketahui. ?Sarang semut mengandung senyawa antioksidan, vitamin, dan mineral. Pada semut, antioksidan berperan dalam pembentukan koloni, menjaga tempat telur jauh dari kuman penyakit, sama seperti pada lebah madu,? ujar ahli serangga Dr Wijaya. Beberapa herbalis dan pengobat komplementer yang dihubungi Trubus secara terpisah menyatakan, belum meresepkan sarang semut.

Dokter Zainal Gani, pengobat di Malang, mengatakan, ?Memang beberapa sarang hewan bisa digunakan untuk mengobati penyakit, seperti sarang laba-laba. Itu sudah lama dikenal di kamus pengobatan Cina.? Hal sama disampaikan oleh Broto Sudibyo, herbalis senior di Yogyakarta.

Misteri tentang sarang semut tengah disibak, tetapi produk itu mulai banyak dimanfaatkan untuk mengatasi beragam penyakit maut. Tak hanya masyarakat Wamena, Papua, yang umumnya merebus 1 sendok makan sarang semut dalam 2 gelas hingga mendidih dan tersisa 1 gelas. Namun, juga orang-orang di berbagai kota yang berharap kesembuhan segera tiba. (Sardi Duryatmo/Peliput: Imam Wiguna)




Posted by Kir@k at 08:39:43 | Permanent Link | Comments (3) |