Burung Air
Burung air adalah burung yang hidup dan tinggalnya di daerah perairan seperti daerah pinggir sungai, laut, rawa, hutan bakau, hutan payau etuaria danau, sawah, bendungan dan pantai.
Konvensi Ramsar mendefinisikan burung air sebagai jenis burung yang secara ekologis kehidupannya bergantung kepada keberadaan lahan basah (Sibuea, 1995).
MacKinnon (1993) membagi burung air ke dalam 4 kategori ekologi yaitu:
1.Burung burung laut, bersifat pelagik (hidup di laut bebas) dan bersifat aerial (lebih banyak beraktivitas dengan terbang) yang makan dan hidup di laut. Yang termasuk dalam burung-burung jenis ini adalah Peggunting Laut suku Procellariidae, Petrel Badai suku Hydrobatidae, burung Buntut suku Phaetontidae, burung Gangsa Batu Slidae, burung Dara Laut suku Sternidae, burung Cikalang suku Fregatidae, dan burung Camar Kejar suku Stercorariidae.
2.Burung-burung berenang di air tawar, yaitu burung pelagik yang umum dijumpai berenang di perairan tawar. Burung-burung ini biasanya adalah dari jenis perenang dan lebih mirip bebek kecuali Pecuk Ular dari suku Phalacrocoracidae. Burung yang masuk dalam kategori ini antara lain Titihan suku Podicipedidae, Belibis Itik suku Anatidae, Kaki Sirip suku Heliornithidae dan Pecuk.
3.Burung air berkaki panjang, burung ini berukuran besar, umumnya makan di dalam air tetapi dengan cara berdiri di dasar perairan dangkal ataupun tepi sungai. Meskipun burung ini banyak menghabiskan waktu diperairan mereka merupakan burung penerbang yang kuat dan bukan perenang. Jenis ini antara lain burung Cangak suku Ardeidae, burung Bangau suku Ciconidae, dan burung Ibis suku Thereskiornithidae.
4.Perancah dan pemakan organisme tanah, burung ini hidup di tepi perairan dengan paruh panjang untuk memeriksa ke dalam lumpur dan pasir untuk mendapatkan makanan yang terpendam di dalamnya. Burung-burung jeis ini adalah Kaki Lebar suku Phalacopidae, Trulek suku Charadriidae, Wili Wili suku Burhinidae, Blekek Kembang suku Rostratulidae, dan Terik suku Glareolidae.
Rose dan Scott (1994) dalam Sibuea (1995) juga, menggolongkan famili burung air yang terdapat di Indonesia yaitu : Podicipedidae (Titihan), Phalacrocoracidae (Pecuk), Pelecanidae (Pelikan), Ardedidae (Kuntul, Cangak, Kowak), Anatidae (Bebek, Mentok, Angsa), Gruidae (Burung Jenjang), Ciconiidae (Bangau) Thereskiornithidae (Pelatuk Besi dan Paruh Sendok), Rulidae (Ayam Ayaman, Mandar, Kareo, Terbombok), Heliornithidae (Fin Foot), Jacanidae (Ucing Ucingan), Rostratulidae, Haematopodidae, Charadriidae (Trinil), Scolopacidae (Gajahan, Berkek), Recurvirostridae, Phalaropodidae, Burhinidae, Glareolidae (Terik) dan Laridae (Camar).
Habitat Burung air
Kelompok burung air biasanya sering ditemui dalam jumlah banyak pada daerah perairan dalam hal ini tentu saja dapat dijadikan indikator penting untuk mempelajari kualitas dan produktivitas suatu kawasan perairan atau lahan basah.
Berdasarkan definisi Ramsar berarti burung air menjadikan kawasan perairan atau lahan basah dan sumberdaya yang ada di atasnya seperti tumbuhan sebagai tempat makan, beristirahat, dan berkembang biak.
Adapun beberapa jenis lahan basah yang sering dijadikan sebagai habitat burung air adalah:
1.Manggrove dan Dataran Lumpur di Tepi Pantai
Hutan manggrove sering juga disebut sebagai hutan bakau atau payau hal ini disebabkan adanya jenis tumbuhan bakau yang mendominasi tegakan pada hutan ini. Hutan manggrove ini selalu tergenang air dan berada di daerah pantai sehingga dipengaruhi oleh pasang surut. Pada hutan ini terdapat campuran antara air laut dan air tawar dari sungai.
Menurut Sibuea (1995) indonesia mempunyai kawasan manggrove terbesar di dunia. Irian Jaya memiliki 58 % dari jumlah total, Sumatera 19 % dan Kalimantan 16 %.
Tidak hanya burung, hutan manggrove yang merupakan tempat hidup berbagai jenis satwa lainnya. Terdapat 170 jenis burung yang diketahui hidup pada daerah ini, termasuk beberapa jenis Bangau (Sibuea, 1995), sedangkan satwa lain yang kerap muncul pada kawasan lahan basah ini adalah bebrapa jenis primata seperti Bekantan, Uwa Uwa dan sebagainya.
Hutan yang kaya akan ikan dan udang udangan ini sangat mendukung kehidupan burung-burung air dan beberapa jenis burung hutan umum. Kawasan yang didominasi oleh jenis bakau seperti Sonneratia sp, Rhizophora sp dan Bruguira digunakan oleh berbagai satwa ataupun burung sebagai tempat bersarang selain juga bisa menjadi bahan pakan mereka.
Berbeda dengan kawasan pantai yang di dominasi oleh vegetasi semak belukar yang tidak rapat di atas pasir yang kering dan tidak terpengaruh oleh iklim. Air sangat susah tertahan. Hutan ini dapat terlihat dengan adanya hutan cemara (Casuarina equisetifolia), pohon kelapa, Calophyllum inophyllum, Hibiscus tiliacius, dan Pisenia grandis, demikian juga dengan epiphit dan anggrek, hanya sedikit jenis burung yang agak umum terutama burung air.
Biasanya burung menggunakan lumpur di tepi pantai sebagai tempat mencari makan seperti halnya burung bangau. Sedangkan hutan manggrove menjadi tempat pentingnya untuk bersarang disamping makan (Sibuea, 1995).